ORANG TUA MENJADI SAHABAT TERBAIK UNTUK ANAK KITA

Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua, kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh  Nabi Muhammad SAW. Diantara teladan tersebut antara lain:

1. Berbicara Dari Hati ke Hati
Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menegaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa. Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya.
Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akanditayangkan da diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.

2. Memberi Ruang Lebih Setelah Memasuki Usia Akil Baliqh
Anak perlu memiliki ruang agar tidak merasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan kita. Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.

3. Mempercayakan Tanggung Jawab yang Lebih Berat.
Waktu usia 15-21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih berat dan lebih besar, harapannya kelak anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.
Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik- adiknya, mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola kuangannya sendiri

4. Membekali anak dengan keahlian hidup.
Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah” (HR. Bukhari dan Muslm)
Secara harfiah, olah raga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat baik untuk kebugaran tubuh. Sebagian menafsirkan bahwa berkuda dapat pula diartikan mampu mengendarai kendaraan (baik kendaraan darat, laut, udara). Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan kemampuan fisik yang diperlukan agar menjadi muslim yang kuat. Sedangkan memanah dapat pula diartikan sebagai melatih konsentrasi dan fokus pada tujuan.
Di era modern, sebagian pakar memperluas tafsiran hadist diatas sebagai berikut :
a) Berkuda = Skill of Life, memberi keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup agar memiliki rasa percaya diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
b) Berenang = Survival of Live , mendidik anak agar selalu bersmangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi masalah.
c) Memanah = Thingking of Life, mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan menentukan target hidupnya.
Semoga saja kita para orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya dapat memberikan perlakuan yang tepat pada anak-anak, siapapun mereka, dari manapun mereka berasal, dan dimanapun mereka berada, karena anak-anak adalah tanggung jawab orang dewasa di sekitarnya.

Tanggung Jawab Orang Tua:
Begitu lahir, seorang bayi mulai mengenali lingkungan dan orang-orang terdekatnya. Jiwa mereka yang masih lembut itu akan sangat mudah dibentuk dan dicorakkan oleh lingkungan pertamanya. anak adalah amanah kepada orang tua, hatinya masih suci bagaikan tambang asli yang masih bersih dari segala corak dan  warna. Ia siap untuk dibentuk untuk dijadikan apa saja tergantung keingina pembentuknya.jika dibiasakan untuk dibina untuk menjadi baik  maka Ia akan menjadi baik. Kedua orang tua, para guru dan pendidiknya pun akan menuai kebahagiaan didunia dan akhirat. Sebaliknya, bila dibiasakan terhadap keburukan dan diabaikan pembinaanya laksana binatang ternak, maka buruklah jadinya dan ia pun akan merasa merugi. Orang tua dan para pendidiknya pun akan turut menanggung dosanya.

“Para pemuda itu tumbuh menjadi dewasa
Tergantung bagaimana orang tuanya membiasakan mereka
Pemuda tidak dapat ditaklukkan oleh akal semata
Melainkan oleh pembiasaan beragama dari orang- orang terdekatnya.”

Apabila rumah dapat membawa pengaruh sedemikian besar terhadap kehidupan anak, maka wajib kiranya ditanamkan sejak dini dalam jiwa anak semangat keagamaan dan kemuliaan budi pekerti. Pendidikan bukan sebagai pemberian atau hadiah, melaikan hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua. Bahwa orang itu disebut sebagai abrar ( orang- orang yang berbakti) karena mereka telah berbuat kebaikan, baik kepada orang tua nya maupun kepada anak-anaknya. Sebagaimana kamu punya hak atas anakmu, begitu pula anakmu punya hak atas dirimu.

Jelas ini adalah hasil panen jerih payah orangtua. Setelah sekian lama dalam kesabaran tiada berujung, orangtua berjuang keras  mendidik mereka. Saat usia telah senja, tulang telah rapuh, kepala telah menyala putih, banyak keterbatasan, saat perlu bersandar, anak-anak yang baik itu benar-benar menyejukkan pandangan mata, menentramkan hati. Ibarat oase di tengah gurun sahara. Ibarat air sejuk bagi musafir yang telah lemas karena dehidrasi. Anak yang berbakti. Anak yang mengerti hak orangtua. Anak yang bisa mengangkat derajat orangtunya kelak di Surga Allah. amin.. (W131015)

Emergency Call
0322-311777
Ambulan Gawat Darurat 118 (AGD 118) RSML