Kamis, 6 Dec 2012, 14:25:42 WIB, Sumber : Rian Sindu

Rinitis alergika dan laki-laki bercadar

Rinitis alergika dan laki-laki bercadar

Beberapa orang mungkin mengalami hal serupa seperti saya. Tak ada hujan tak ada badai, tiba-tiba hidung terasa gatal, tak lama kemudian buntu lalu bersin-bersin tak karuan.Gejalanya mirip ketika terserang flu, namun anehnya gejala bersin-bersin dan hidung mbeler seperti ini akan hilang dengan sendirinya. Kalau bahasa saya, kalau sudah kecapekan bersinnya berhenti sendiri.

            Yang paling menjengkelkan gejala biasanya timbul di pagi hari, tentu saja penyakit ini akan mengurangi kualitas hidup penderitanya, di mana waktu sepeti itu adalah waktu peak performance tubuh, atau prime time di mana semua orang memulai aktifitasnya, sayapun begitu, memulai aktivitas mengusap-usap hidung membuang ingus.duh....

Sialnya bukan waktu pagi saja aktivitas mbeler seperti ini. Kadang tengah hari, waktu terik matahari pun penyakit ini sering kumatRasanya tidak sakit sih, lebih tepatya menjengkelkan. Siapa yang tak jengkel, saat bekerja ternyata mbelernya kumat, bersin-bersin di depan pasien, tentu saja sangat mengganggu, bahkan ada pasien yang nyeletukMas, mas, kerja di rumah sakit tempatnya obat, kok sakit???” Siapa yang tak jengkel saat ada momen-momen khusus misalnya rapat atau sedang liburan jalan-jalan kemana gitu tapi akhirnya kumat juga. Sering saya jadi bahan olok-olokan oleh teman, di bilang lelaki ingusan lah, pilek abadi lah, tukangmbeler lah, atau apalah yang tentu semakin membuat gatal hidung, eh, kuping. Alhasil penyakit ini lebih sayarasakan sebagai siksaan batin bukan fisik.

Mungkin tepat, kata orang bahwa saya terkena alergi, masuk akal sih, karena ibu saya memang alergi. Penjelasan dokter untuk ibu saya tentang Alergi adalah reaksi berlebih sistem imun tubuh terhadap suatu zat ( disebut alergen ) yang masuk ke dalam tubuh baik itu melalui makanan, minuman ataupun udara yang di hirupPada orang biasa mungkin suat zat yang masuk bukan termasuk alergen, namun tidak demikian pada penderita alergi. Karena itu lah sering di sebut hyper-sensitifitas.

Namun penjelasan dokter untuk saya beda, karena alergi saya bukan alergi biasa, alergi yang rhinitis, bahasa kerennya Rhinitis alergika. Alergi yang tak biasa, perlu penjelasan rumit. Apalagi untuk orang yang awam seperti saya.

Diceritakan bahwa penderita rhinitis akan mengalami bersin-bersin berkepanjangan dengan waktu bisa bermenit, berjam bahkan sepanjang hari jika tak di beri obat. Ingus terlihat encer bening seperti sedang influenza. Hidung buntu, mata berair dan lebam karena mata terasa gatal yang tak enak kalo tidak dikucek. Pada pemeriksaan darah, akan di temukan kadar IgE (imuno glubolin E ) normal di atas angka seratus, seperti IgE saya yang mencapai 410. Dan itu nasib karena turunan.

Faktor pencetusnya adalah alergen. Bisa berupa hawa dingin, debu, zat-zat kimia tertentu, asap rokok, polusi udara dari pembakaran kendaraan bermotor, tungau, bulu binatang, serbuk kain, debu rumah dan lain-lain. Dan alergen yang bersifat seasonal ( di masa-masa tertentu ) seperti serbuk sari bunga dan rumput. Dari makanan juga bisa, biasanya makanan yang mengandung protein hewani tinggi semacam telur, daging ayam, susu, udang, ikan laut dan lain-lain. Bahkan obat sendiri seperti aspirin bisa jadi pencetus gejalanya. Repotkan kalau hidup seperti ini...?

Obatnya? Seperti biasa, ilmu kedokteran sepertinya masih perlu di kembangkan lagi, sudah ditemukan obatnya, hanya obat dalam hal ini hanya akan meringankan dan menghilangkan simtom atau gejala saja tanpa bersifat permanen. Obat bisa berupa anti histamin, anti inflamasi (radang) sejenis kortiko steroid dan dekongestan untuk Menge-plong-kan hidung. Pemilihan obat disesuaikan dengan jenis alergi dan tingkat keparahan dari rhinitis. Perhatikan juga efek samping obat, karena penggunaan yang terus menerus tanpa petunjuk dokter sangat tak di anjurkan. Saya biasanya memilih intranasal steroid merk a****s intranasal, karena hanya obat itulah yang menurut saya sangat ramah, ramah efek samping karena hanya bekerja di rongga hidung, serta ramah kantong karena di tanggung asuransi ^_^.

Namun obat yang paling mujarab dari semua itu adalah menghindari alergen. Karena itu sebenarnya perlu sekali dilakukan tes alergi untuk mengetahui alergen apa saja yang perlu di hindari ( kalau alergi terhadap duit? ) Makanya saya selalu memakai jaket tebal saat pagi hari, atau mematikan AC kantor kalaudinyalakan, walau pak bos marah-marah. Langsung lari melihat orang merokok mendekat, bahkan kalau itu sahabat saya sendiri, dan saya memilih tak mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan debu sama sekali.

Tapi adakalanya tak pernah bisa menghindari seratus persen alergen, seperti debu dan polusi udara. Hal yang paling sering saya praktekkan adalah memakai masker. Ya kain yang melingkar menutupi separuh muka saya. Jadilah saya seperti laki-laki yang mengenakan cadar. Saya iklas memakai  ´cadar’ kemanapun saya pergi, pergi kekantor, ke pasar ke masjid bahkan ke tetangga. Karena itu memang solusi terbaik bagi semua penderita rhinitis alergika agar alergen tak masuk ke tubuh. Bagi saya ada dua kerugian ketika memakai cadar, satu saya tak bisa sarapan roti sambil naik motor, yang kedua beberapa orang akan kehilangan senyum saya untuk sementara  ^_^, salam smile....

 

Bumi maha patih, Oktober ‘12

Emergency Call
0322-311777
Ambulan Gawat Darurat 118 (AGD 118) RSML